Jahe (Zingiber officinale) atau halia adalah tumbuhan yang rimpangnya sering digunakan sebagai rempah-rempah dan bahan baku pengobatan tradisional. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa dominan pedas yang dirasakan dari jahe disebabkan oleh senyawa keton bernama zingeron. Jahe termasuk dalam famili Zingiberaceae (temu-temuan).

Tumbuhan jahe dikategorikan sebagai tumbuhan kultigen dan tidak tersedia lagi dalam bentuk liar di alam. Hal ini disebabkan karena jahe telah kehilangan kemampuannya tumbuh melalui biji seperti kebanyakan jenis rempah-rempah lainnya dan hanya bisa berkembang biak melalui reproduksi vegetatif menggunakan akarnya yang merupakan akibat dari seleksi buatan yang dilakukan manusia.

Jahe disebarkan oleh Suku Bangsa Austronesia dengan membawanya dalam pelayaran dan menanamnya di setiap taman di pulau-pulau yang mereka kunjungi selama berlayar. Kebiasaan inilah yang menyebabkan jahe tersebar hingga ke Filipina dan Kepulauan Maluku, lalu ke seluruh Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Pulau Papua sampai ke Selat Malaka.

Jahe tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Jahe memiliki nama yang beragam di seluruh Indonesia. Daerah yang berada di Pulau Sumatra mengenalnya dengan nama halia (Aceh), beuing (Gayo), bahing (Karo), alia (Melayu), pege (Toba), sipode (Mandailing), lahya (Komering) lahia (Nias), sipodeh (Minangkabau), page (Lubu), dan jahi (Lampung). Nama jahe mungkin berasal dari pulau Jawa karena memiliki kemiripan seperti jahe dalam bahasa Sunda, jae (Jawa), jhai (Madura), dan jae (Kangean).

Daerah Indonesia timur seperti Pulau Sulawesi mengenal jahe dengan nama layu (Mongondow), moyuman (Poros), melito (Gorontalo), yuyo (Buol), siwei (Bare’e), goraka (Bare’e Tojo), laia atau leya (Makassar), dan pace (Bugis). Di Maluku, jahe dikenal dengan nama hairalo (Amahai), pusu, seeia, sehi, siwe (Ambon), sehi (Hila), sehil (Nusa Laut), siwew (Buns), garaka atau woraka (Ternate), gora (Tidore), sohi (Banda) dan laian (Aru).

Daerah di Pulau Papua menyebutnya dengan nama tali dalam bahasa Kalanapat dan marman dalam bahasa Kapaur. Wilayah Nusa Tenggara dan sekitarnya menyebutnya dengan nama jae atau jahi (Bali), reja (Bima), alia (Sumba), dan lea (Flores). Bahasa dayak di Kalimantan (Dayak) mengenal jahe dengan sebutan lai, sedangkan dalam bahasa banjar disebut tipakan.
Botani
Jahe merupakan jenis tumbuhan yang termasuk dalam famili Zingiberaceae. Karena jahe hanya bisa bertahan hidup di daerah tropis, penanamannya hanya bisa dilakukan di daerah katulistiwa seperti Asia Tenggara, Brasil, dan Afrika. Dalam sistematika tumbuhan, tanaman jahe termasuk dalam kingdom Plantae, Subkingdom Tracheobionta, Superdivisi: Spermatophyta, Divisi: Magnoliophyta/Pteridophyyta, Subdivisi: Angiospermae, Kelas: Liliopsida-Monocotyledoneae, Subkelass: Zingiberidae, Ordo: Zingiberales, Suku/Famili: Zingiberaceae, Genus: Zingiber P. Mill. Species: Zingiber officinale.

Sinonim nama jahe adalah: Amomum angustifolium Salisb., dan Amomum zingiber L. Ada sekitar 47 genera dan 1.400 jenis tanaman yang termasuk dalam dalam suku Zingiberaceae, yang tersebar di seluruh daerah tropis dan sub tropis. Penyebaran Zingiber terbesar di belahan timur bumi, khususnya Indo Malaya yang merupakan tempat asal sebagian besar genus Zingiber.

Di Asia Tenggara ditemukan sekitar 80-90 jenis Zingiber yang diperkirakan berasal dari India, Malaya dan Papua. Namun hingga saat ini, daerah asal tanaman jahe belum diketahui. Jahe kemungkinan berasal dari China dan India, tetapi keragaman genetik yang luas ditemukan di Myanmar dan India, yang diduga merupakan pusat keragaman jahe.

Morfologi
Batang jahe merupakan batang semu dengan tinggi 30 hingga 100 cm. Akarnya berbentuk rimpang dengan daging akar berwarna kuning hingga kemerahan dengan bau menyengat. Daun menyirip dengan panjang 15 hingga 23 mm dan panjang 8 hingga 15 mm. Tangkai daun berbulu halus. Bunga jahe tumbuh dari dalam tanah berbentuk bulat telur dengan panjang 3,5 hingga 5 cm dan lebar 1,5 hingga 1,75 cm. Gagang bunga bersisik sebanyak 5 hingga 7 buah. Bunga berwarna hijau kekuningan. Bibir bunga dan kepala putik ungu. Tangkai putik berjumlah dua.

Habitat
Jahe tumbuh subur di ketinggian 0 hingga 1500 meter di atas permukaan laut, kecuali jenis jahe gajah di ketinggian 500 hingga 950 meter. Untuk bisa berproduksi optimal, dibutuhkan curah hujan 2500 hingga 3000 mm per tahun, kelembapan 80% dan tanah lembap dengan PH 5,5 hingga 7,0 dan unsur hara tinggi. Tanah yang digunakan untuk penanaman jahe tidak boleh tergenang.

Varietas
Terdapat tiga jenis jahe yang populer di pasaran, yaitu:
  • Jahe gajah/jahe badak Merupakan jahe yang paling disukai di pasaran internasional. Bentuknya besar gemuk dan rasanya tidak terlalu pedas. Daging rimpang berwarna kuning hingga putih.
  • Jahe kuning Merupakan jahe yang banyak dipakai sebagai bumbu masakan, terutama untuk konsumsi lokal. Rasa dan aromanya cukup tajam. Ukuran rimpang sedang dengan warna kuning.
  • Jahe merah Jahe jenis ini memiliki kandungan minyak atsiri tinggi dan rasa paling pedas, sehingga cocok untuk bahan dasar farmasi dan jamu. Bahkan digunakan pula sebagai pengawet alami di industri pangan karena memiliki aktivitas antibakteri dalam kandungannya terhadap bakteri patogen dan perusak pangan. Ukuran rimpangnya paling kecil dengan kulit warna merah, serat lebih besar dibanding jahe biasa.

Jahe

Budidaya Jahe

Kondisi Lingkungan
Agar jahe dapat tumbuh subur, ada beberapa persyaratan kondisi lingkungan yang harus dipenuhi oleh jahe, yaitu :
*) Iklim yang tepat : Jahe lebih ideal tumbuh di lokasi dengan curah hujan yang relative tinggi yaitu antara 2.500 mm/tahun hingga 4000 mm/tahun. Jahe akan tumbuh optimal pada suhu udara 20 sampai 35 derajat Celcius. Tanaman jahe membutuhkan sinar matahari lebih banyak pada usia 2,5 bulan sampai 7 bulan. Oleh karena itu penanaman jahe harus dilakukan di tempat yang terbuka.
*) Ketinggian lokasi tanam : Jahe akan lebih ideal tumbuh pada lokasi dengan ketinggian 0 sampai 2000 mdpl.
*) Media tanam : Jahe akan tumbuh baik pada keasaman (pH) tanah normal ataupun sedikit asam yaitu 4,3 sampai 7,4.

Pemilihan Bibit
Bibit yang berkualitas ditandai dengan ciri-ciri berikut ini: a) Gunakan bibit jahe dari rimpang yang sudah tua dan mengkilap yang diambil langsung dari kebun. Pastikan rimpang tidak terinfeksi oleh pathogen dan sebagainya. b) Rimpang yang tua dan baik untuk bibit jahe adalah yang sudah berusia Sembilan sampai sepuluh bulan

Penyemaian Bibit
Cara menanam jahe yang benar juga ditentukan oleh tahap penyemaian yang tepat. a) Jemur rimpang jahe yang sudah dipilih sebelumnya. Jangan biarkan rimpang menjadi terlalu kering. Bolak-balik rimpang jahe selama proses penjemuran agar terkena sinar matahari dengan merata. b) Pastikan rimpang yang dijemur memiliki dua sampai tiga bakal tunas jahe. Celupkan rimpang ke dalam fungisida selama satu menit untuk mencegah adanya jamur yang menempel. c) Pilih media semai seperti peti kayu maupun ember besar yang telah diberikan jerami setebal 10 cm. Masukkan rimpang jahe ke atasnya dan tutup dengan abu gosok di atas rimpang jahe. Diamkan selama dua sampai empat minggu.
Pengolahan Lahan
a) Gemburkan tanah menggunakan cangkul. Jika menginginkan hasil maksimal, anda bisa menambahkan jerami maupun pupuk dengan perbandingan 3:1 agar tanah lebih subur ketika ditanami. b) Bangun bedengan dengan tinggi 35 cm dan lebar 125 cm. Buat bedengan dengan panjang sesuai dengan jumlah tanaman jahe yang ingin ditanam. c) Siram dengan air secukupnya agar tanah menjadi basah.

Penanaman
Sebelum memindahkan benih yang telah disemai ke bedengan, bersihkan benih jahe dari penyakit. Caranya cukup mudah, yaitu hanya perlu mencelupkan jahe yang telah diambil dari media penyemaian selama delapan jam untuk membebaskannya dari penyakit. Cara menanam jahe ke dalam bedengan dapat dilakukan baik dengan menyisipkan jahe ke dalam tanah maupun dengan membuat lubang terlebih dahulu. Ketika menanam, aturlah jarak jahe satu sama lain agar tidak saling bertumpuk. Selanjutnya sirami benih yang telah ditanam.

Perawatan
Tanaman liar seperti rumput teki memiliki peluang untuk tumbuh di sekeliling tanaman jahe dan menyebabkan penurunan produktivitas. Oleh karena itu, pada tahap awal setelah penanaman, lakukanlah penyiraman rutin setiap hari agar kebutuhan air tercukupi. Selain itu, anda juga perlu menyiangi rumput di sekeliling tanaman jahe. Cara menanam jahe selanjutnya adalah dengan memberikan pupuk secara rutin ketika jahe sudah tumbuh cukup besar. Pada saat ini, intensitas penyiraman sudah bisa dikurangi. Selain diberi pupuk, pemberian obat yang tepat agar tanaman terhindar dari hama dan penyakit juga perlu dilakukan.

Penyulaman
Pada saat jahe telah berusia dua sampai tiga minggu lakukanlah penyulaman pada tanaman yang mati ataupun layu. Cabut tanaman tersebut dan ganti dengan tanaman jahe yang baru. Pada saat anda mencabut tanaman jahe yang sudah mati ada baiknya anda melakukan pemeriksaan penyebab ataupun gejala pada tanaman tersebut.

Tanaman yang mati akibat penyakit seperti penyakit layu bakteri berisiko meninggalkan bakteri di lokasi penanaman tersebut. Bakteri ini akan menginfeksi tanaman yang anda sulam selanjutnya sehingga menyebabkan kegagalan panen. Jika kematian akibat infeksi bakteri, segera sirami lubang tanah bekas tanaman dengan kapur maupun antibiotik. Hal ini untuk mencegah tanaman baru terserang penyakit.
Penyiangan
Berikutnya adalah dengan menyiangi tanaman setiap 2 sampai 4 minggu sekali. Bersihkan rumput liar yang tumbuh di sekeliling tanaman karena akan mengganggu produktivitas. Setelah itu, lanjutkan penyiangan selama 3 sampai 6 minggu sekali. Ketika jahe telah berumur 7 bulan maka henitkan penyiangan.

Pembubunan
Pembubunan adalah proses penimbunan tanah yang dilakukan pada pangkal rumpun tanaman. Fungsi dari pembubunan salah satunya adalah untuk menegakkan tanaman. Hal ini penting dilakukan mengingat tanah yang ada di sekitar tanaman berpotensi terkikis ketika diriam oleh air, baik air irigasi maupun hujan sehingga penting dilakukan pembubunan setelah beberapa lama tanaman ditanam. Agar tanaman jahe dapat tumbuh dengan maksimal, maka penting untuk mengkondisikan tanah agar dapat mengalirkan udara dan air ke dalam tanaman jahe. Selain itu, apabila sebagian akar tanaman jahe telah muncul ke permukaan, sebaiknya segera lakukan pembubunan.

Pemupukan
Pupuk penting agar jahe dapat tumbuh dengan optimal dengan hasil yang memuaskan. Ada dua jenis pupuk yang bisa anda pilih, yaitu pupuk kandang maupun pupuk kimia. Pupuk kandang membutuhkan jumlah yang lebih banyak dibanding pupuk kimia namun tentu efek negatifnya pada tanaman dan tanah lebih sedikit. Nutrisi yang dibutuhkan jahe dari yang paling tinggi hingga paling sedikit dibutuhkan adalah Kalium, Nitrogen, Magnesium, Kalsium dan Phospor. Pupuk yang lebih banyak mengandung Nitrogen dan Phospor kurang tepat diberikan dalam jumlah banyak pada jahe.

Pemanenan
Jahe yang sudah bisa dipanen umumnya yang sudah berusia 8 sampai 12 bulan, bisa juga tergantung permintaan pasar. Jahe yang ditujukan untuk bumbu masak umumnya adalah jahe yang berusia 8 bulan atau belum terlalu tua. Namun, jika jahe ditujukan untuk bibit jahe berikutnya, maka pilihlah yang berusia 12 bulan atau rimpangnya sudah cukup tua. Ciri-ciri tanaman jahe yang sudah mengering adalah tanaman tersebut memiliki daun yang sudah berubah warna dari hijau menjadi kuning serta batang telah mongering.

Tahapan pemanenan jahe : a) Proses pembongkaran lahan tanam, dapat dilakukan baik menggunakan cangkul maupun alat garpu. b) Pengumpulan jahe, di lokasi yang cukup dekat dengan lokasi penanaman jahe. Bisa menggunakan karung ataupun keranjang untuk mengangkut jahe dari tempat penanaman ke pengumpulan. c) Pembersihan jahe, dari tanah serta kotoran yang menempel, atau dicuci jika diperlukan. Selanjutnya jahe dijemur di atas papan maupun daun pisang selama seminggu. Untuk menyimpan jahe gunakan tempat yang terbuka dan tidak lembab. Usahakan anda memanen jahe sebelum musim penghujan tiba. Panen pada musim hujan berpotensi menyebabkan rimpang menjadi rusak karena lebih banyak kadar air dibanding bahan aktif pada tanah.