Udang
Udang adalah nama umum bagi sebagian kelompok hewan yang tergolong ke dalam bangsa Dekapoda dari kelompok besar Krustasea. Ditinjau dari segi taksonomi, sesungguhnya nama udang ini melingkup beberapa kelompok hewan yang berlainan, meskipun masih berkerabat dekat. Udang mencakup jenis-jenis dekapoda yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai shrimp, prawn, lobster, dan crayfish; bahkan sebutan ini juga dipakai untuk menamai sebagian anggota bangsa Stomatopoda yang memiliki bentuk tubuh mirip, misalnya udang ronggeng.
Menurut tradisi, bangsa dekapoda terbagi atas dua anak-bangsa (subordo), yakni dekapod perenang (Natantia) dan dekapod perayap (Reptantia).
Natantia mencakup kelompok udang-udangan sejati (shrimp dan prawn) yang bebas berenang kian kemari, meskipun sering pula didapati merayap-rayap di dasar perairan. Kelompok ini mempunyai kaki-kaki yang ramping; abdomen yang memanjang dan pipih tegak; serta dilengkapi dengan sederetan pleopod, yakni kaki-kaki kecil tambahan yang berguna untuk berenang.
Reptantia mencakup kelompok udang karang, udang pasir, udang lumpur, beserta kerabatnya: kelomang, undur-undur laut, dan kepiting. Akan tetapi pengelompokan atas anak-bangsa Natantia dan Reptantia kini dianggap telah usang dan tidak digunakan lagi, karena tidak mencerminkan kekerabatan bangsa dekapod, bahkan taksa-taksa di atasnya, dengan tepat.
Udang menjadi dewasa dan bertelur hanya di habitat air laut. Betina mampu menelurkan 50.000 hingga 1 juta telur, yang akan menetas setelah 24 jam menjadi larva (nauplius). Nauplius kemudian bermetamorfosis memasuki fase kedua yaitu zoea (jamak zoeae). Zoea memakan ganggang liar. Setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis (jamak myses). Mysis memakan ganggang dan zooplankton.
Setelah tiga sampai empat hari kemudian mereka bermetamorfosis terakhir kali memasuki tahap pascalarva: udang muda yang sudah memiliki ciri-ciri hewan dewasa. Seluruh proses memakan waktu sekitar 12 hari dari pertama kali menetas. Pada tahap ini, udang budidaya siap untuk diperdagangkan, dan disebut sebagai benur.
Di alam liar, pascalarva kemudian bermigrasi ke estuari, yang sangat kaya akan nutrisi dan bersalinitas rendah. Di sana mereka tumbuh dan kadang-kadang bermigrasi lagi ke perairan terbuka di mana mereka menjadi dewasa. Udang dewasa merupakan hewan bentik yang utamanya tinggal di dasar laut. 









Budidaya udang telah dilakukan sejak beberapa abad lalu di benua Asia, tepatnya di India, Bangladesh, dan Vietnam. Pada masa itu, komoditas udang diproduksi dengan menjebak benih udang liar ke kolam pasang surut yang berada di sekitar pantai. Kemudian kegiatan budidaya tersebut mulai dikembangkan ke daerah persawahan padi yang berada tidak jauh dari tepi pantai.
Pada saat musim kemarau ketika padi sudah dipanen, sawah tersebut diairi dengan air sungai yang memiliki salinitas tinggi di musim kemarau. Kemudian, benih udang liar yang telah ditangkap dari daerah muara sungai atau pantai ditebar di sawah tersebut. Sistem budidaya ini bertahan cukup lama hingga abad ke-20.
Budi daya udang merupakan suatu usaha budi daya perairan yang terkait dengan pemeliharaan udang sejak penetasan telur hingga siap dipanen untuk konsumsi manusia. Udang yang dibudidayakan dapat berupa udang air tawar maupun air laut, dengan lokasi pembudidayaan tergantung syarat hidup dari udang terkait.
Sekitar 75 persen udang yang dikonsumsi di seluruh dunia dihasilkan di Asia, dan 25 persen dihasilkan di Amerika Selatan. Varietas udang air asin mendominasi budi daya udang dengan spesies Litopenaeus vannamei dan Penaeus monodon. Sedangkan udang air tawar hanya sekitar 20 persen, dengan spesies utama yang dibudidayakan adalah Macrobrachium rosenbergii.
Udang
Udang Budidya
Terdapat lebih dari 300 jenis udang yang hidup di habitat air tawar, air payau, dan air laut. Tetapi tidak semua jenis udang dapat dikonsumsi dan atau memiliki nilai ekonomis tinggi. Berikut adalah beberapa jenis udang yang sering dibudidayakan, baik sebagai udang untuk konsumsi, maupun sebagai udang hias :
Jenis Udang untuk Konsumsi
Udang Windu
Udang windu merupakan salah satu komoditas laut dengan nilai jual yang tinggi. Udang yang dikenal sebagai tiger shrimp ini banyak dijumpai di perairan Asia Tenggara, Asia Selatan, Australia, dan Afrika Timur. Dengan ukuran yang cukup besar, udang windu sangat cocok untuk diolah menjadi berbagai masakan lezat, mulai dari tumis udang, udang bakar, tempura udang, hingga kari udang.
Udang Vaname
Tak kalah dengan udang windu, udang vaname juga merupakan jenis udang yang memiliki nilai ekonomis tinggi, terutama sebagai komoditas ekspor. Udang yang dikenal dengan sebutan whiteleg shrimp ini memiliki daya tahan lingkungan yang sangat baik dibandingkan dengan jenis udang lainnya.
Selain unggul dalam hal ketahanan, udang vaname juga menawarkan tekstur yang lembut dan kenyal saat disantap. Tak heran jika banyak petambak memilih untuk membudidayakan udang ini.
Udang Jerbung
Udang jerbung mungkin bukanlah nama yang sering didengar dalam keseharian. Namun, jenis udang ini merupakan salah satu komoditas ekspor yang menjanjikan bagi Indonesia. Tingginya minat pasar global terhadap udang jerbung, terutama karena warnanya yang cenderung merah saat dimasak, membuatnya semakin dicari.
Oleh karena itu, udang jerbung dianggap sebagai alternatif yang tepat untuk dibudidayakan, bersanding dengan udang windu dan udang vaname.
Udang Galah
Udang galah merupakan salah satu jenis udang yang dapat dikonsumsi dan sangat cocok untuk dibudidayakan. Dengan nilai ekonomis yang tinggi dan proses budidaya yang relatif mudah, udang ini menjadi pilihan alternatif menarik bagi para petambak.
Ciri khas dari udang dengan nama ilmiah Macrobrachium rosenbergii ini adalah adanya capit panjang yang menyerupai galah, sehingga di Indonesia, udang ini populer dengan sebutan udang galah. Selain itu, secara fisik, udang galah juga memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan jenis udang lainnya.
Udang Dogol
Jenis udang yang terakhir untuk budidaya adalah udang dogol. Komoditas ini memiliki nilai tinggi di pasaran, yang disebabkan oleh tingginya permintaan dari pasar.
Karakteristik fisik udang dogol tampak jelas; ukurannya tidak terlalu besar, tetapi juga tidak kecil. Selain itu, kulitnya lebih tebal dan memiliki tekstur kasar jika dibandingkan dengan jenis udang lainnya.
Jenis Udang Hias
Udang Blue Pearl
Udang Blue Pearl adalah salah satu jenis udang hias yang berasal dari Taiwan. Dengan warna biru cerah yang berkilau seperti mutiara, udang ini sangat cocok sebagai udang hias di akuarium. Keindahannya akan menambah daya tarik visual yang luar biasa di dalam akuarium.
Udang Bumble Bee
Seperti namanya, udang bumble bee memiliki corak warna yang menyerupai lebah, yaitu hitam, kuning, dan putih. Udang ini termasuk dalam keluarga Caridina. Umumnya, udang bumble bee dipelihara dalam aquascape yang dilengkapi dengan tanaman air, kayu, dan batu hias untuk menciptakan suasana yang alami dan menarik.
Udang Red Cherr
Masih dari keluarga Caridina, Caridina spinata dikenal sebagai salah satu udang hias terindah di Indonesia. Dengan dominasi warna merah terang, udang ini tampil sangat mencolok, menjadikannya pilihan yang tepat bagi yang ingin memulai hobi aquascape.
Udang Vampire
Udang vampire, atau yang dikenal sebagai vampire shrimp, merupakan spesies udang yang berasal dari Afrika Barat dan Amerika Selatan. Keunikan udang ini terletak pada cara mereka mencari makanan, yaitu dengan menyambar makanan menggunakan kedua antena kecilnya.
Dikenal dengan nama ilmiah Atya gabonensis, udang ini memiliki tubuh yang berwarna abu-abu dengan kecenderungan keputihan. Dalam hal ukuran, vampire shrimp adalah salah satu udang hias terbesar di antara berbagai jenis udang hias.
Udang Red Rili
Udang rili merah adalah salah satu jenis udang hias yang, sekilas, tampak mirip dengan udang red cherry. Namun, yang membedakan keduanya adalah adanya corak putih yang menghiasi bagian tengah tubuh udang rili merah. Spesies ini biasanya dapat tumbuh hingga sepanjang 3 cm, menjadikannya pilihan yang sangat baik untuk aquascape.
Udang Blue Pearl
Udang Blue Pearl adalah salah satu jenis udang hias yang berasal dari Taiwan. Dengan warna biru cerah yang berkilau seperti mutiara, udang ini sangat cocok sebagai udang hias di akuarium. Keindahannya akan menambah daya tarik visual yang luar biasa di dalam akuarium.
Udang Bumble Bee
Seperti namanya, udang bumble bee memiliki corak warna yang menyerupai lebah, yaitu hitam, kuning, dan putih. Udang ini termasuk dalam keluarga Caridina. Umumnya, udang bumble bee dipelihara dalam aquascape yang dilengkapi dengan tanaman air, kayu, dan batu hias untuk menciptakan suasana yang alami dan menarik.
Udang Red Cherr
Masih dari keluarga Caridina, Caridina spinata dikenal sebagai salah satu udang hias terindah di Indonesia. Dengan dominasi warna merah terang, udang ini tampil sangat mencolok, menjadikannya pilihan yang tepat bagi yang ingin memulai hobi aquascape.
Udang Vampire
Udang vampire, atau yang dikenal sebagai vampire shrimp, merupakan spesies udang yang berasal dari Afrika Barat dan Amerika Selatan. Keunikan udang ini terletak pada cara mereka mencari makanan, yaitu dengan menyambar makanan menggunakan kedua antena kecilnya.
Dikenal dengan nama ilmiah Atya gabonensis, udang ini memiliki tubuh yang berwarna abu-abu dengan kecenderungan keputihan. Dalam hal ukuran, vampire shrimp adalah salah satu udang hias terbesar di antara berbagai jenis udang hias.
Udang Red Rili
Udang rili merah adalah salah satu jenis udang hias yang, sekilas, tampak mirip dengan udang red cherry. Namun, yang membedakan keduanya adalah adanya corak putih yang menghiasi bagian tengah tubuh udang rili merah. Spesies ini biasanya dapat tumbuh hingga sepanjang 3 cm, menjadikannya pilihan yang sangat baik untuk aquascape. 