Pupuk

Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.

Pembibitan Tanaman

Jenis bibit tanaman dapat diperoleh dari dua cara, yaitu generatif dan vegetatif. Kedua cara tersebut dibedakan dengan bakal tanaman yang digunakan untuk melakukan perbanyakan pohon. Berikut ini jenis-jenis bibit tanaman dari cara mendapatkannya.


Bibit generatif

Jenis bibit generatif adalah biji. Biji merupakan bagian tanaman yang sudah dibuahi sehingga sistem generatif sering disebut dengan seksual. Hal ini dikarenakan biji berasal dari pertumbuhan embrio hasil penyerbukan atau bisa dibilang perkawinan (pembuahan) antara putik dan serbuk sari.

Bibit generatif berasal dari biji yang sengaja digunakan untuk dibenihkan atau tumbuh alami di alam. Perbanyakan ini sudah digunakan sejak dulu hingga kini. Perbanyakan dari jenis bibit generatif tentunya memiliki kelemahan dan kelebihan.

Salah satu kelemahan yang sering ditimbulkan dari bibit generatif adalah pohon yang tidak berbuah. Pohon yang ditumbuhkan dari bibit generatif akan memiliki sifat yang berbeda dengan pohon induknya sehingga Anda baru tahu kualitas buahnya saat pohon sudah berbuah. Sifat unggul dari induknya belum tentu bisa diwariskan kepada bibit karena bibit dihasilkan dari penyerbukan pohon lain. Kemungkinan, pohon yang tumbuh dari bibit generatif hanya mampu menghasilkan bunga jantan sehingga tanaman tidak bisa menghasilkan buah.

Kelebihan dari bibit generatif adalah biaya pembibitan yang murah serta mudah untuk dilakukan. Anda bisa mendapatkan kemungkinan varietas yang lebih baik. Karena ditumbuhkan dari biji, sistem perakaran akan kuat sehingga pohon berumur panjang.


Bibit vegetatif

Bibit vegetatif didapatkan dari perbanyakan yang tidak dilakukan dari biji atau disebut sebagai aseksual. Bagian tubuh yang biasa digunakan adalah akar dan batang. Perbanyakan vegetatif meliputi setek, cangkok, kultur jaringan, dan tunas.

Keistimewaan dari penggunaan jenis bibit vegetatif adalah sifat unggul dari pohon induk yang digunakan dapat diwarisi pada pohon yang akan ditumbuhkan. Selain itu, penggunaan bibit vegetatif dapat membuat tanaman cepat berbunga dan berbuah. Tanaman yang dihasilkan pun dapat tumbuh dengan baik di lahan yang memiliki permukaan air tanah dangkal.

Sementara, kelemahan dari bibit vegetatif adalah jumlah yang diperoleh dari satu pohon induk sangat sedikit, pohon mudah tumbang karena sistem perakarannya dangkal dan rentan saat memasuki musim kemarau. Pohon ini tak hanya mewarisi sifat unggul, tetapi sifat jelek dari induk pun ikut terbawa.


Bibit vegetatif-generatif

Bibit ini disebut dengan bibit kombinasi karena tergabung dari bibit generatif (bawah) dan bibit vegetatif (atas). Teknik kombinasi yang biasa digunakan adalah sambungan, okulasi, dan susuan.

Gambar di atas adalah berbagai macam jenis pembibitan tanaman, baik secara generatif, maupun secara vegetatif; baik yang terjadi secara alami, maupun yang dilakukan secara buatan, dengan campur tangan manusia dan teknologinya.

Indonesia, negeri kepulauan di wilayah tropis dengan kultur masyarakat agraris

0
(ribu km2) Daratan
0
(ribu km2) Perairan
0
(juta) Penduduk
0
(juta) Petani

Pembibitan Hewan

Dalam konteks Agrikultura Indonesia, ada beberapa pembibitan hewan, yaitu; pembibitan Ikan, pembibitan Unggas, pembibitan Ternak, dan pembibitan Hewan lainnya. Ada beberapa pembibitan unggas, misalnya; pembibitan Ayam, pembibitan, burung, pembibitan Kalkun, dan lain-lain. Demikian juga pembibitan Ternak, misalnya; pembibitan Kambing/Domba, pembibitan Sapi/Kerbau, dan lain-lain. Pembibitan Hewan lainnya, misalnya; pembibitan Ulat, pembibitan Jangrik, serta serangga lainnya.


Pembibitan Ikan

Pembibitan/Pembenihan ikan, adalah usaha untuk menghasilkan benih ikan yang nantinya akan digunakan pada kegiatan pembesaran. Secara umum, pembenihan itu mudah untuk dilakukan serta siklus perputaran uang pun relatif lebih cepat. Kebutuhan masyarakat akan konsumsi ikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Produksi ikan di Indonesia harus didukung oleh benih yang unggul dan berkualitas.


Pembibitan Unggas

Unggas (bahasa Inggris: poultry) adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk daging dan telur atau bulunya. Umumnya merupakan bagian dari ordo Galliformes (seperti ayam dan kalkun), dan Anseriformes (seperti bebek).

Unggas ini sebetulnya secara keilmuan biologi adalah burung, namun yang membedakan penyebutan burung kebanyakan dan unggas hanya pada manfaat saja. Unggas adalah burung yang diambil manfaatnya oleh manusia.


Pembibitan Ternak

Bibit ternak merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan dalam pembangunan subsektor peternakan. Untuk menjamin ketersediaan bibit ternak yang memenuhi kebutuhan dalam hal jumlah, standar mutu, syarat kesehatan , syarat keamanan hayati serta terjaga keberlanjutannya yang dapat menjamin terselenggaranya usaha budidaya peternakan, maka diperlukan arahan perumusan sistem perbibitan nasional.


Pembibitan Hewan Lainnya

Beberapa jenis hewan yang diternakkan, selain yang “utama” disebutkan sebelumnya. Hewan yang dapat menghasilkan keuntungan kalau diternakkan, antara lain, misalnya; Lebah madu, ulat sutra, ulat sagu, jangkrik, dan lain-lain. Yang tersebut di atas dimanfaatkan dan berharga madunya, hasil sutranya, atau sebagai produk sebagai pakan.

Lebah telah dipelihara di sarang lebah buatan sejak masa Dinasti Pertama Mesir Kuno, kira-kira lima ribu tahun yang lalu. Sebelum itu, manusia telah lama mengambil madu dari lebah liar. Sarang buatan dapat dibuat dari berbagai bahan yang ada di berbagai kawasan dunia. Di negara-negara berkembang, budi daya lebah telah menghasilkan jenis lebah yang jinak dan berproduksi tinggi, dan sarang lebah dirancang khusus untuk memudahkan pengambilan madu. Selain menghasilkan madu dan lilin, lebah juga dipelihara dan disalurkan untuk membantu penyerbukan tanaman pertanian maupun tanaman liar.

Peternakan ulat sutra, atau serikultur, telah ada paling tidak sejak Dinasti Shang di Tiongkok. Bombyx mori adalah satu-satunya spesies yang dapat diternakkan secara komersial. Hewan ini menghasilkan benang sutera yang panjang dan tipis saat larvanya membentuk kepompong. Ulat ini memakan daun murbei dan hal ini berarti hanya satu generasi dapat tumbuh per tahun karena tumbuhan ini bersifat musiman. Dua generasi per tahun dapat tumbuh di Tiongkok, Korea, atau Jepang, dan lebih banyak lagi dapat tumbuh di daerah tropis. Saat ini, kebanyakan produksi sutra terjadi di daerah Asia Timur, dan di Jepang pakan sintesis digunakan untuk menumbuhkan ulat sutra.

Berbagai serangga menjadi bahan makanan dalam beberapa budaya. Di Thailand bagian utara, jangkrik diternakkan untuk menjadi makanan sedangkan di bagian selatan negara tersebut ulat sagu diternakkan untuk tujuan serupa. Jangkrik dipelihara di kandang atau kotak dan diberi pakan komersial, sedangkan ulat sagu memakan batang sagu sehingga hanya bisa diternakkan jika tumbuhan tersebut tersedia.