Peternakan

Peternakan adalah segala urusan yang berkaitan dengan sumber daya fisik, benih, bibit dan/atau bakalan, pakan, alat dan mesin Peternakan, budidaya Ternak, panen, pascapanen, pengolahan, pemasaran, dan pengusahaannya. (PP RI. No.6 Th.2013. Bab.I. Pasal 1. No.7)

Peternakan merupakan salah satu usaha agrikultura, yang kegiatannya antara lain, adalah; mengembangbiakkan dan melakukan pemeliharaan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut. Hewan yang banyak diternakkan antara lain, adalah; sapi, ayam. kambing, domba, dan babi. Hasil dari kegiatan peternakan, antara lain, adalah; daging, susu, telur, dan bahan pakaian (seperti wol). Selain itu, kotoran hewan yang diternakkan dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah. Atau, pada jenis peternakan tertentu, tenaga hewan dapat digunakan sebagai sarana transportasi dan untuk membajak tanah.

Komoditi Peternakan

Biasanya peraturan resmi atau hukum legal yang menerangkan atau berkaitan dengan hal peternakan, mengikuti dan menyesuaikan dengan kondisi yang sudah ada dan berjalan. misalnya mengenai jenis-jenis hewan ternak, atau yang dapat diternakkan.

Contohnya pemerintah Indonesia mendefinisikannya sebagai “Hewan peliharaan yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian”

Tapi siapa yang dapat melarang, ketika misalnya seorang men-ternak-kan hewan, yang tidak atau belum tercantum dalam peraturan resmi. Misalnya ada di tempat lain, tapi di negara ini bukan termasuk hewan ternak. Atau sesuatu yang memang relatif masih baru dijalankan karena baru mempunyai nilai ekonomi pada beberapa tahun terakhir, seperti misalnya Cacing, Ulat, Kalajengking, dll. Dan siapa tau beberapa tahun lagi nanti ada yang “baru” lagi.

Memang ada hewan yang hampir selalu dianggap hewan ternak di antaranya sapi (termasuk sapi potong dan perah), kambing, domba, dan unggas (seperti ayam dan itik). Kuda kadang dianggap hewan ternak juga, sedangkan beberapa burung unggas kadang tidak dianggap hewan ternak.

Kalau mau memberikan definisi yang lebih luas lagi, misalnya juga mencakup peternakan ikan, hewan-hewan kecil seperti kelinci dan tikus belanda, maupun lebah madu dan serangga yang dipelihara untuk dimakan.

Beradasarkan produk yang dihasilkan dari kegiatan agrikultura peternakan ini, diantaranya adalah; daging, susu, dan telur, yang menjadi makanan untuk manusia. Hasil peternakan juga dapat dimanfaatkan industri, misalnya wol (untuk pakaian), kulit (untuk sepatu, tas, dan sebagainya), bulu, dan lemak (untuk sabun, mentega).

Tulang, tanduk, kuku, dan usus pun dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Kotoran hewan dapat digunakan sebagai sumber pupuk, sehingga mengembalikan sebagian mineral dan bahan organik yang dikonsumsi hewan ternak ke sistem dan membantu menumbuhkan kembali makanannya sendiri.

Tenaga hewan juga dapat dimanfaatkan, misalnya kuda sebagai sarana transportasi dan kerbau untuk membajak (terutama di negara yang belum banyak menggunakan mesin). Hewan ternak juga dapat digunakan dalam kegiatan rekreasi, misalnya karapan sapi di Madura dan pacu jawi di Tanah Datar.

Ada juga hewan ternak yang dipelihara untuk tujuan khusus, misalnya menghasilkan vaksin dan antiserum (yang mengandung antibodi) untuk tujuan pengobatan.

Peternakan di Indonesia (data th. 2017)

(Triliun Rp.) PDB Nasional
0
(Milyar Rp.) PMDN
0
(Milyar Rp.) PMA
0
Tenaga Kerja Peternakan
0
Dari berbagai sumber yang telah didapat, dan pertimbangan pem-fokus-an komoditi, serta hubungannya dengan sektor lainnya di kegiatan agrikultura ini, usaha peternakan ini dibagi menjadi empat (4) jenis usaha, yaitu; Peternakan Potong, Peternakan Perah, Peternakan Unggas, dan Peternakan Serangga

Peternakan Potong

Hasil utama dari peternakan potong adalah daging, yang merupakan salah satu sumber utama protein. Sekitar rata-rata 8% dari kebutuhan energi manusia berasal dari makanan daging. Jenis daging hewan yang dimakan tergantung pada bebebrapa faktor, misalnya; kesukaan serta kebiasaan setempat, ketersediaan hewan potonga, biaya, serta faktor-faktor lainnya.

Sapi, kambing, domba, dan babi adalah spesies-spesies yang paling banyak diternakkan untuk dagingnya. Hewan-hewan ini memiliki kecepatan berkembang-biak yang berbeda. Sapi biasanya hanya melahirkan satu anak dan membutuhkan lebih dari setahun untuk dewasa; kambing dan domba sering memiliki anak kembar dan dapat disembelih sebelum umur satu tahun; babi adalah hewan yang sangat subur dan tiap tahun dapat menghasilkan hingga 11 anak.

Di kawasan tertentu, kuda, keledai, rusa, kerbau, llama, dan alpaka juga diternakkan untuk diambil dagingnya. Sifat yang diinginkan dari hewan-hewan ternak potong diantaranya kesuburan, ketahanan, kecepatan tumbuh, kemudahan pemeliharaan, dan efisiensi konversi makanan (tingginya hasil daging per pakan yang diberikan).

Sekitar setengah dari daging di dunia dihasilkan dari hewan yang dibiarkan bebas di padang rumput atau kandang yang cukup luas, sedangkan setengahnya lagi dihasilkan dari peternakan intensif dengan sistem pabrik, terutama daging sapi, ayam, dan babi. Dalam sistem intensif, hewan-hewan ini dipelihara dalam ruangan dengan kepadatan tinggi.

Peternakan Perah

Semua hewan mamalia menghasilkan susu untuk anak-anaknya, dan sebenarnaya mempunyai potensi untuk diusahakan sebagai peternakan perah. Pada kenyataannya, sapi adalah hewan utama pada peternakan perah, yang dijadikan sumber susu untuk konsumsi manusia.

Beberapa hewan lain juga diambil susunya di berbagai tempat tertentu, misalnya; kambing, domba, unta, kerbau, kuda, dan keledai

Hewan-hewan ternak perah telah didomestikasi dari habitat liarnya sejak lama, sehingga telah terjadi banyak pemuliaan sehingga memiliki sifat-sifat seperti kesuburan, produktivitas susu, kejinakan, dan kemampuan hidup di kondisi setempat.

Pada awalnya, dan hingga kini masih dilakukan di berbagai peternakan tradisional, sapi memiliki berbagai fungsi sekaligus. Sapi tidak hanya dipelihara untuk diperah tetapi juga sebagai sumber tenaga (untuk menarik kendaraaan atau membajak sawah), kotorannya digunakan untuk menyuburkan tanah, dan juga diternakkan untuk menghasilkan produk lain seperti daging, kulit, atau rambutnya yang dapat dicukur dan dipintal.

Dalam peternakan modern, dengan adanya teknologi pemuliaan bibit, muncul tipe-tipe sapi perah yang menghasilkan susu dalam jumlah sangat besar, seperti ras Sapi Holstein yang dikenal sangat ekonomis. Peternak dapat melakukan inseminasi buatan untuk mengawinkan hewan-hewan untuk menghasilkan keturunan unggul atau cocok dengan kondisi peternak.

Kambing dan domba kadang juga diternakkan untuk menghasilkan susu jika iklim atau kondisi setempat tidak memungkinkan peternakan sapi perah.

Pada zaman modern, peternakan perah cenderung menunjukkan peralihan dari sistem peternakan keluarga menjadi peternakan besar yang intensif. Dalam peternakan keluarga yang kini mulai ditinggalkan, sapi makan dari padang rumput dan hanya dibawakan makanan saat musim dingin atau kering. Dalam sistem peternakan perah yang intensif, sapi dipelihara dalam jumlah besar khusus untuk menghasilkan susu. Sapi diternakkan, hidup di dalam bangunan, dan makanannya dibawakan sepanjang tahun, dengan tanpa diberi kesempatan merumput.

Peternakan Unggas

Beberapa hewan-hewan unggas, seperti ayam, bebek, angsa, dan kalkun diternakkan untuk diambil dagingnya dan telurnya. Ayam adalah hewan utama yang diternakkan untuk tujuan keduanya, dagingnya dan telurnya, tegantung dari jenis ayam yang diternakkan.

Terdapat beberapa metode peternakan unggas, yang bervariasi, mulai dari sistem ekstensif yang membebaskan unggas-unggas berkeliaran dan hanya dikandangkan pada malam hari demi keamanan, atau sistem semi-intensif yang memelihara unggas di kandang besar atau pagar yang masih memungkinkan unggas tersebut bergerak atau bertengger, hingga sistem intensif yang memelihara unggas dalam kandang yang teratur.

Salah satu metode yang digunakan dalam peternakan intensif adalah sistem kandang baterai, tempat unggas dikandangkan dalam kerangkeng sempit bertingkat-tingkat dengan sistem khusus untuk memberi makan, minum, dan mengambil telur. Secara ekonomi, metode ini memiliki produksi telur tinggi dan hemat tenaga kerja, tetapi banyak dikritik oleh para pengusung kesejahteraan hewan karena unggas dalam sistem ini tidak dapat mengikuti gaya hidup alamiahnya.

Pada peternakan unggas yang besar, biasanya ayam potong pun dipelihara di dalam ruangan, menggunakan kandang-kandang besar dengan kondisi yang diatur ketat menggunakan peralatan otomatis. Ayam broiler atau ayam ras pedaging biasanya dipelihara dengan cara ini, dan melalui budidaya genetis hewan ini dapat siap potong dalam umur enam atau tujuh pekan.

Dalam sistem ini, ayam yang baru menetas dikurung dalam tempat kecil dan diberikan pemanas buatan. Kotoran mereka diserap oleh alas kandang dan tempatnya diperluas seiring tumbuhnya ayam-ayam ini. Pakan dan minuman diberikan secara otomatis dan penerangan dikendalikan secara ketat. Ayam dapat diambil dan disembelih dalam beberapa tahap, atau satu kandang dapat “dibersihkan” secara serentak.

Sistem pemeliharaan serupa juga digunakan untuk kalkun, tetapi kalkun tidak beradaptasi dengan lingkungan ini semudah ayam. Kalkun juga butuh waktu lebih lama untuk tumbuh dan sering dipindahkan ke fasilitas khusus agar menggemuk. Bebek adalah unggas populer di Asia dan Australia, dan dengan sistem komersial dapat dipotong saat berumur tujuh pekan.

Saat ini, burung, sudah menjadi salah satu investasi yang sangat menjanjikan. Selain mudah diternakkan, beberapa burung juga memiliki harga yang sangat mahal. Jenis burung yang mahal dan mudah diternakkan biasanya pandai berkicau. Selain itu, burung ini pasti memiliki warna yang indah. Bahkan, memiliki kemampuan yang berbeda dari burung yang lainnya.

Memiliki jenis burung yang mahal dan bisa diternakkan kini tidak sekadar untuk hobi, tetapi juga sumber penghasilan. Jadi, tidak perlu khawatir jika ingin mulai berkecimpung di dalamnya. Mulailah dengan modal yang ringan dan pahami juga bahwa beternak burung akan tetap ada risiko kerugiannya

Peternakan Serangga

Serangga Lebah telah sejak lama dipelihara oleh manusia, di sarang lebah buatan. Sebelum itu, manusia telah lama mengambil madu dari lebah liar. Sarang buatan dapat dibuat dari berbagai bahan yang ada di berbagai wilayah.

Budi daya lebah telah menghasilkan jenis lebah yang jinak dan berproduksi tinggi, dan sarang lebah dirancang khusus untuk memudahkan pengambilan madu.

Selain menghasilkan madu dan lilin, lebah juga dipelihara dan disalurkan untuk membantu penyerbukan tanaman pertanian maupun tanaman liar.

Peternakan ulat sutra, atau serikultur, telah ada sejak lama. Bombyx mori adalah satu-satunya spesies yang dapat diternakkan secara komersial. Hewan ini menghasilkan benang sutera yang panjang dan tipis saat larvanya membentuk kepompong.

Ulat ini memakan daun murbei dan hal ini berarti hanya satu generasi dapat tumbuh per tahun karena tumbuhan ini bersifat musiman. Ulat sutra lebih banyak dapat tumbuh di daerah tropis. Saat ini, kebanyakan produksi sutra terjadi di daerah Asia Timur. Bahkan sudah ada produksi pakan sintesis, yang digunakan untuk menumbuhkan ulat sutra.

Beberapa peternakan serangga jenis baru, saat ini bermunculan, karena adanya kebutuhan pasar. Pada umumnya karena kebutuhan untuk pakan binatang peliharaan, seperti misalnya; jangkrik untuk pakan burung peliharaan dan atau ikan peliharaan. Demikian juga beberapa jenis ulat, selain ulat sutera, yang diternakkan untuk dijual kepada konsumen untuk pakan hewan peliharaan.