Karet

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis tumbuhan. Sumber utama produksi karet dalam perdagangan internasional adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae).

Karet adalah polimer dari satuan isoprena (politerpena) yang tersusun dari 5000 hingga 10.000 satuan dalam rantai tanpa cabang. Diduga kuat, tiga ikatan pertama bersifat trans dan selanjutnya cis. Senyawa ini terkandung pada lateks pohon penghasilnya. Pada suhu normal, karet tidak berbentuk (amorf). Pada suhu rendah ia akan mengkristal. Dengan meningkatnya suhu, karet akan mengembang, searah dengan sumbu panjangnya. Penurunan suhu akan mengembalikan keadaan mengembang ini. Inilah alasan mengapa karet bersifat elastik.

Lateks dibentuk pada permukaan benda-benda kecil (disebut “badan karet”) berbentuk bulat berukuran 5 nm sampai 5 μm yang banyak terdapat pada sitosol sel-sel pembuluh lateks (modifikasi dari floem). Sebagai substratnya adalah isopentenil difosfat (IPD) yang dihasilkan sel-sel pembuluh lateks. Dengan bantuan katalisis dari prenil transferase, pemanjangan terjadi pada permukaan badan karet yang membawa suatu polipeptida berukuran 14 kDa yang disebut rubber elongation factor (REF). Sebagai bahan pembuatan starter, diperlukan pula 3,3—dimetilalil difosfat sebagai substrat kedua. Suatu enzim isomerase diperlukan untuk tugas ini.


Kebanyakan karet komersial berasal dari getah pohon para karet (para rubber tree) atau Hevea brasiliensis yang berasal dari Brazilia, Amerika Selatan, mulai dibudidayakan di Sumatera Utara pada tahun 1903 dan di Jawa pada tahun 1906. Tanaman karet merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahun. Habitus tanaman ini merupakan pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 15 – 20 meter.

Tanaman karet memiliki sifat gugur daun sebagai respon tanaman terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (kekurangan air/kemarau). Tanaman karet juga memiliki sistem perakaran yang ekstensif/menyebar cukup luas sehingga tanaman karet dapat tumbuh pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan. Tanaman karet memiliki masa belum menghasilkan selama lima tahun (masa TBM 5 tahun) dan sudah mulai dapat disadap pada awal tahun ke enam. Secara ekonomis tanaman karet dapat disadap selama 15 sampai 20 tahun.

Karakter

Tanaman karet memiliki perakaran yang ekstensif, akar tunggangnya mampu tumbuh menembus tanah sampai 2 m, sedangkan akar lateralnya menyebar sepanjang lebih dari 10 m. Tanaman karet berbentuk pohon dengan tinggi 15–25 m, tipe pertumbuhan tegak dan memperlihatkan pola pertumbuhan berirama (ritme), yakni terdapat masa tumbuh dan masa istirahat (latent) yang bergantian dalam periode sekali dalam dua bulan. Batangnya berkayu, dengan susunan dari luar ke dalam sebagai berikut: kulit keras, terdiri dari lapisan gabus, kambium gabus, lapisan sel batu; kulit lunak, di dalamnya terdapat floem dan pembuluh lateks; kambium; dan kayu/xylem.

Pembuluh lateks melingkar di dalam jaringan floem seperti spiral, membentuk sudut 3,70 – 50 terhadap garis vertikal dari kanan (atas) ke kiri (bawah). Daun tanaman karet merupakan daun majemuk, dimana satu tangkai daun umumnya memiliki 3-5 anak daun. Tangkai daun panjangnya 3–20 cm, anak daun eliptis memanjang dengan ujung runcing, tepi rata dan gundul. Daun tumbuh pada buku-buku membentuk karangan daun yang disebut payung. Termasuk tanaman decidious, menggugurkan daunnya pada musim kering. Bunga tersusun dalam rangkaian (malai) berbentuk seperti kerucut.

Termasuk tanaman monoceous (bunga jantan dan betina letaknya terpisah dalam satu malai), bunga jantan terletak di bagian bawah/pangkal dari cabang-cabang malai sedangkan bunga betina terletak di ujung malai. Bunga betina memiliki 3 bakal buah yang beruang 3 dengan kepala putik yang duduk, bunga jantan memiliki 10 benang sari yang bersatu membentuk tiang, serbuk sari lengket, kecil dengan diameter 25-30 mikron. Buah karet mempunyai garis tengah antara 3–5 cm, dengan bagian ruang yang berbentuk setengah bola; biji besar, berbercak/bernoda (khas dan beracun). Masak buah yang normal sekitar 5 bulan, buah masak pecah dengan kuat menurut ruang.

Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zona antara 150 LS dan 150 LS. Bila di tanam di luar zone tersebut, pertumbuhannya pun melambat, sehingga memulai produksinya pun lebih lambat. Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15–25 m.

Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke arah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal lateks. Memang, tanaman karet tergolong mudah diusahakan. Apalagi kondisi Negara Indonesia yang beriklim tropis, sangat cocok untuk tanaman yang berasal dari Daratan Amerika Tropis, sekitar Brazil.

Hampir di semua daerah di Indonesia, termasuk daerah yang tergolong kurang subur, karet dapat tumbuh baik dan menghasilkan lateks. Karena itu, banyak rakyat yang berlomba-lomba membuka tanahnya untuk dijadikan perkebunan karet. Luas lahan karet yang dimiliki Indonesia mencapai 2,7-3 juta hektar. Ini merupakan lahan karet yang terluas di dunia. Perkebunan karet yang besar banyak diusahakan oleh pemerintah serta swasta. Sedangkan perkebunan-perkebunan karet dalam skala kecil pada umumnya dimiliki oleh rakyat.

Karet

Budidaya

Tanaman karet banyak ditanam pada ketinggian 0–500 m dpl, dengan ketinggian optimum 0–200 m; semakin tinggi tempat penanaman pertumbuhan lambat sehingga saat buka sadap menjadi tertunda. Berdasarkan hasil penelitian, hubungan antara ketinggian tempat dengan rata-rata umur buka sadap adalah sebagai berikut:
  • 0–200 m dpl; < 6 tahun
  • 200–400 m dpl; 7 tahun
  • 400–600 m dpl; 7,5 tahun
  • 600–800 m dpl; 8,6 tahun
  • 800–1000 m dpl; 10,2 tahun

Tanaman karet tumbuh baik pada lintang 6o LU – 6o LS, namun masih bisa tumbuh baik pada lintang 10o LU – 10o LS. Membutuhkan daerah panas dan lembap dengan suhu yang dikehendaki antara 24o – 28o C. Curah hujan tidak kurang dari 1500–2000 mm/th, yang terdistribusi merata sepanjang tahun; paling baik curah hujan 2500–3000 mm/th dengan 100-150 hari hujan. Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan kemiringan tanah kurang dari 10%. Kedalaman efektif lebih dari 100 cm, tekstur tanah terdiri lempung berpasir dan liat berpasir, pH tanah berkisar antara 4,3 – 5,0, dengan drainase tanah sedang.

Waktu yang tepat untuk menanam karet adalah saat musim penghujan sehingga intensitas penyiraman bisa dikurangi. Bibit yang sudah siap ditanam adalah bibit yang mempunyai payung daun terakhir yang sudah tua. Bibit diletakkan di bagian tengan lubang tanam dan ditimbun dengan tanah. Setiap 1-2 minggu, pemeriksaan bibit perlu dilakukan sehingga bibit yang mati bisa segera diganti untuk mempertahankan populasi tanaman karet. Penyulaman dilakukan guna mengganti bibit yang tidak tumbuh baik selama proses pertumbuhan di media tanam.

Pemanenan. Lateks diperoleh dengan melukai kulit batangnya sehingga keluar cairan kental yang kemudian ditampung. Cairan ini keluar akibat tekanan turgor dalam sel yang terbebaskan akibat pelukaan. Aliran berhenti apabila semua isi sel telah “habis” dan luka tertutup oleh lateks yang membeku.

Penyadapan. Tanaman karet siap sadap bila sudah matang sadap pohon. Matang sadap pohon tercapai apabila sudah mampu diambil lateksnya tanpa menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat ditentukan berdasarkan “umur dan lilit batang”. Diameter untuk pohon yang layak sadap sedikitnya 45 cm diukur 100 cm dari pertautan sirkulasi dengan tebal kulit minimal 7 mm dan tanaman tersebut harus sehat. Pohon karet biasanya dapat disadap sesudah berumur 5-6 tahun.

Sadapan dilakukan dengan memotong kulit kayu dari kiri atas ke kanan bawah dengan sudut kemiringan 30˚ dari horizontal dengan menggunakan pisau sadap yang berbentuk V. Semakin dalam sadapan akan menghasilkan banyak lateks. Waktu penyadapan yang baik adalah jam 5.00 – 7.30 pagi dengan dasar pemikirannya: Jumlah lateks yang keluar dan kecepatan aliran lateks dipengaruhi oleh tekanan turgor sel Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar.

Produk

Kementerian Perindustrian mencatat industri karet dalam negeri sejauh ini baru menyerap sekitar 550 ribu ton per tahun dari total produksi karet alam yang mencapai 3 juta ton per tahun. Dari total karet alam yang terserap, 55 persen dimanfaatkan oleh industri ban, 17 persen digunakan oleh industri sarung tangan dan benang karet, 11 persen digunakan oleh industri alas kaki, dan 9 persen digunakan oleh industri barang-barang karet lainnya.

Produk primer dari tanaman karet adalah karet alam. Karet alam sudah banyak diperdagangkan untuk kegunaannya sebagai bahan mentah dalam sejumlah produk. Pada hari ini, lebih dari 90% karet di dunia berasal dari Asia Tenggara.

Kualitas karet alam diatur oleh Badan Standar Nasional (BSN) melalui Standard Indonesian Rubber (SIR) pada tahun 1999. Standard Indonesian Rubber adalah karet alam yang diperoleh dengan pengolahan bahan olah karet yang berasal dari getah batang pohon Hevea Brasiliensis secara mekanis dengan atau tanpa kimia, serta mutunya ditentukan secara spesifikasi teknis.

Produk sekunder. Pelanggan paling penting dari karet alam adalah industri otomotif. Hampir 70% karet alam kemudian diolah menjadi ban mobil. Selain menjadi ban, karet alam juga digunakan untuk ikat pinggang di beberapa negara.

Untuk standardisasi kualitas ban telah dilakukan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) oleh Badan Standar Nasional. Terdapat 6 produk yang terkena SNI wajib. Keenam produk ban yang terkena SNI Wajib tersebut adalah jenis ban untuk mobil penumpang (Pos Tarif/HS No. 4011.10.00.00), ban truk ringan (4011.10.00.00), ban truk bus (4011.20.10.00), ban sepeda motor (4011.40.00.00).

Selain itu terdapat ban dalam kendaraan bermotor untuk mobil penumpang, truk ringan, truk dan bus, sepeda motor. Untuk kategori ini, pemerintah membaginya dalam tiga nomor pos tarif. Pos tarif No. 4013.10.11.00 untuk ban dalam mobil penumpang dan truk ringan, HS No. 4013.10.21.00 (ban dalam truk dan bus) serta HS No. 4013.90.20.00 (ban dalam sepeda motor). Untuk standar yang dilihatnya meliputi sifat tampak, dimensi, penunjuk keausan telapak, ketidak dudukan bead untuk ban tanpa ban dalam, ketahanan saat tekanan angin rendah, dan endurance.