Internet of Things

Internet of Things atau sering disebut IoT, adalah sebuah ide serta penerapan, dimana suatu objek tertentu mempunyai kemampuan untuk dapat berkomunikasi satu dengan objek yang lain, sebagai bagian dari satu kesatuan sistem terpadu, menggunakan jaringan internet sebagai penghubung, tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer.

Dalam konsep IoT, berbagai perangkat dapat saling terhubung melalui internet. Teknologi ini dapat memudahkan dalam pengintegrasian perangkat-perangkat yang digunakan dalam seluruh bidang, termasuk pertanian.

Komoditi Perkebunan

Internet untuk Segala

sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Adapun kemampuan seperti berbagi data, remote control, dan sebagainya, termasuk juga pada benda di dunia nyata. Contohnya bahan pangan, elektronik, koleksi, peralatan apa saja, termasuk benda hidup yang semuanya tersambung ke jaringan lokal dan global melalui sensor yang tertanam dan selalu aktif.[1] Pada dasarnya, Internet of Things mengacu pada benda yang dapat diidentifikasikan secara unik sebagai representasi virtual dalam struktur berbasis Internet. Istilah Internet of Things awalnya disarankan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999 dan mulai terkenal melalui Auto-ID Center di MIu, seperti lada dan vanili. Ciri-ciri lainnya, yang tidak selalu berlaku, adalah adanya instalasi pengolahan atau pengemasan terhadap hasil panen dari lahan perkebunan itu, sebelum produknya dipasarkan. Perkebunan dibedakan dari usaha tani pekarangan terutama karena skala usaha dan pasar produknya. Ukuran luas perkebunan sangat relatif dan tergantung volume komoditas yang dihasilkan. Namun, suatu perkebunan memerlukan suatu luas minimum untuk menjaga keuntungan melalui sistem produksi yang diterapkannya. Kepemilikan lahan bukan merupakan syarat mutlak dalam perkebunan, sehingga untuk beberapa komoditas berkembang sistem sewa-menyewa lahan atau sistem pembagian usaha, seperti Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Terdapat dua (2) kelompok komoditi perkebunan, yaitu; komoditi tanaman industri semusim, tanaman yang hanya mampu tumbuh selama semusim pada tahun tersebut, atau tanaman tahunan yang biasa dipanen cepat sebelum musim berakhir; dan komoditi tanaman industri tahunan, tanaman yang mampu tumbuh lebih dari dua tahun. Tanaman industri tahunan umumnya merujuk pada tanaman berkayu keras. Tanaman indutri tahunan mampu dipanen beberapa kali sebelum akhirnya mengalami penurunan hasil dan tidak lagi produktif secara ekonomi, yang kemudian ditebang.  

Keunggulan IoT

Tanpa IoT, kegiatan usaha dan produksi hasil agrikultura akan terus berjalan. Tetapi dengan adanya penerapan IoT, diharapkan, kegiatan agrikultura akan lebih meningkat efisiensinya, dan terutama produktivitasnya.

Bidang IoT ini telah, sedang, dan masih akan terus berkembang, untuk menghasilkan Berikut adalah beberapa manfaat penggunaan dan penerapan IoT di bidang agrikultura Diantara banyak manfaat yang Berikut merupakan manfaat yang dapat diperoleh melalui penerapan IoT: Konektivitas. Melalui IoT, kita dapat mengoperasikan banyak hal dari satu perangkat misalnya smartphone. Efisiensi. Dengan peningkatan konektivitas, terdapat penurunan jumlah waktu yang biasanya dihabiskan untuk melakukan tugas yang sama. Kemudahan. Dengan penerapan IoT, tidak perlu mengoperasikan suatu perangkat secara manual serta dapat mempermudah suatu aktivitas.

Beberapa komoditi hasil perkebunan tanaman industri tahunan, diantaranya adalah: Karet, dari getah (lateks) tanaman para (Hevea brasiliensis); Kopra dan produk-produk lainnya dari kelapa; Minyak sawit, minyak inti sawit, dan produk-produk lainnya dari kelapa sawit; Kulit dan batang kina, dihasilkan oleh beberapa jenis Cinchona spp.; Biji dan bubuk kopi, dihasilkan dari kebun Coffea spp.; Biji dan serbuk kakao, dihasilkan oleh tanaman kakao, Theobroma cacao; dan Teh, dihasilkan dari pemrosesan daun teh, Camellia sinensis.  

Terdapat pula produk tanaman industri tahunan lain yang ditanam dengan skala kecil dan kurang intensif, tetapi dikumpulkan lalu diolah sebagai produk perkebunan. Komoditas ini biasanya merupakan “perkebunan rakyat” dan perbedaannya dengan usaha tani pekarangan menjadi kabur. Produk pada daftar di bawah, adalah beberapa di antaranya:

– Kulit manis, dihasilkan dari kulit batang/cabang beberapa jenis Cassia.
– Minyak sitronela, dihasilkan dari ekstrak batang semu sitronela, Cymbopogon spp.
– Bubuk vanili, dihasilkan dari pengolahan buah vanila, Vanilla planifolia.
– “Buah” kemukus, dihasilkan dari tanaman kemukus, Piper cubeba.
– “Buah” cabe jawa, dihasilkan dari tanaman cabe jawa, Piper retrofractum dan Piper longum.
– Biji pala dan salut bijinya (fuli), dari kebun pala (Myristica fragrans).
– Buah dan bubuk merica, dihasilkan oleh tanaman lada, Piper nigrum.
– Serat kapuk, dihasilkan dari tanaman kapuk Ceiba pentandra.
– Kacang mete, dihasilkan oleh tanaman mete, Anacardium occidentale.
– Bunga, daun, dan minyak cengkih, dihasilkan oleh tanaman cengkih, Syzigium aromaticum.

Komoditi Perkebunan di Indonesia

0
Hours of Coffee
0
Completed Projects
0
Clients
0
Working Hours

Penerapan IoT di Agrikultura

Kegiatan agrikultura perkebunan, pemeliharaan memegang peranan penting. Karena sifatnya intensif, perkebunan hampir selalu menerapkan cara budidaya monokultur, kecuali untuk komoditas tertentu, seperti lada dan vanili.

Ciri-ciri lainnya, yang tidak selalu berlaku, adalah adanya instalasi pengolahan atau pengemasan terhadap hasil panen dari lahan perkebunan itu, sebelum produknya dipasarkan. Perkebunan dibedakan dari usaha tani pekarangan terutama karena skala usaha dan pasar produknya.

Ukuran luas perkebunan sangat relatif dan tergantung volume komoditas yang dihasilkan. Namun, suatu perkebunan memerlukan suatu luas minimum untuk menjaga keuntungan melalui sistem produksi yang diterapkannya. Kepemilikan lahan bukan merupakan syarat mutlak dalam perkebunan, sehingga untuk beberapa komoditas berkembang sistem sewa-menyewa lahan atau sistem pembagian usaha, seperti Perkebunan Inti Rakyat (PIR).

Terdapat dua (2) kelompok komoditi perkebunan, yaitu; komoditi tanaman industri semusim, tanaman yang hanya mampu tumbuh selama semusim pada tahun tersebut, atau tanaman tahunan yang biasa dipanen cepat sebelum musim berakhir; dan komoditi tanaman industri tahunan, tanaman yang mampu tumbuh lebih dari dua tahun.

Tanaman industri tahunan umumnya merujuk pada tanaman berkayu keras. Tanaman indutri tahunan mampu dipanen beberapa kali sebelum akhirnya mengalami penurunan hasil dan tidak lagi produktif secara ekonomi, yang kemudian ditebang.

Beberapa komoditi hasil perkebunan tanaman industri semusim, diantaranya adalah: Serat ganja, dari tanaman Cannabis sativa; Serat kapas, dari beberapa spesies kapas, Gossypium spp.; Serat kenaf, dari batang Hibiscus cannabinus; Serat goni dan bunga rosela, dari tanaman Hibiscus sabdariffa; Serat sisal, dihasilkan dari daun tanaman sisal, Agave sisalana; Serbuk indigo, dihasilkan dari tanaman tarum, Indigofera tinctoria; Gula tebu, dihasilkan dari perasan batang tebu dan produk sampingannya (dapat pula dibudidayakan secara tahunan); dan Daun tembakau, dihasilkan dari tanaman tembakau, Nicotiana spp.

Beberapa komoditi hasil perkebunan tanaman industri tahunan, diantaranya adalah: Karet, dari getah (lateks) tanaman para (Hevea brasiliensis); Kopra dan produk-produk lainnya dari kelapa; Minyak sawit, minyak inti sawit, dan produk-produk lainnya dari kelapa sawit; Kulit dan batang kina, dihasilkan oleh beberapa jenis Cinchona spp.; Biji dan bubuk kopi, dihasilkan dari kebun Coffea spp.; Biji dan serbuk kakao, dihasilkan oleh tanaman kakao, Theobroma cacao; dan Teh, dihasilkan dari pemrosesan daun teh, Camellia sinensis.

Terdapat pula produk tanaman industri tahunan lain yang ditanam dengan skala kecil dan kurang intensif, tetapi dikumpulkan lalu diolah sebagai produk perkebunan. Komoditas ini biasanya merupakan “perkebunan rakyat” dan perbedaannya dengan usaha tani pekarangan menjadi kabur. Produk pada daftar di bawah, adalah beberapa di antaranya:

– Kulit manis, dihasilkan dari kulit batang/cabang beberapa jenis Cassia.
– Minyak sitronela, dihasilkan dari ekstrak batang semu sitronela, Cymbopogon spp.
– Bubuk vanili, dihasilkan dari pengolahan buah vanila, Vanilla planifolia.
– “Buah” kemukus, dihasilkan dari tanaman kemukus, Piper cubeba.
– “Buah” cabe jawa, dihasilkan dari tanaman cabe jawa, Piper retrofractum dan Piper longum.
– Biji pala dan salut bijinya (fuli), dari kebun pala (Myristica fragrans).
– Buah dan bubuk merica, dihasilkan oleh tanaman lada, Piper nigrum.
– Serat kapuk, dihasilkan dari tanaman kapuk Ceiba pentandra.
– Kacang mete, dihasilkan oleh tanaman mete, Anacardium occidentale.
– Bunga, daun, dan minyak cengkih, dihasilkan oleh tanaman cengkih, Syzigium aromaticum.