Durian

Durian (bentuk tidak baku: duren) adalah buah yang dapat dimakan dari beberapa spesies pohon dalam genus Durio yang didalamnya terdiri dari 29 spesies yang diakui, setidaknya sembilan di antaranya menghasilkan buah yang dapat dimakan. Durian memiliki ciri khas karena ukurannya yang besar, bau yang kuat, dan kulitnya yang berduri. Buahnya dapat tumbuh hingga panjang 30 cm (12 inci) dan diameter 15 cm (6 inci), dan beratnya biasanya 1 hingga 3 kg (2 hingga 7 pon). Bentuknya berkisar dari lonjong hingga bulat, warna kulitnya dari hijau hingga cokelat, dan dagingnya dari kuning pucat hingga merah, tergantung spesiesnya.
Pohon durian berukuran besar, tumbuh hingga 25–50 meter (80–165 kaki) tingginya tergantung pada spesiesnya. Daunnya merupakan malar hijau, elips hingga lonjong dan panjang 10–18 sentimeter (4–7 inci). Bunganya dihasilkan dalam tiga hingga tiga puluh kelompok bersama-sama pada cabang-cabang besar dan langsung pada batang, dengan setiap bunga memiliki kelopak dan lima (jarang empat atau enam) mahkota.

Pohon durian memiliki satu atau dua periode berbunga dan berbuah per tahun, meskipun waktunya bervariasi tergantung pada spesies, kultivar, dan lokasi. Pohon durian yang khas dapat berbuah setelah empat atau lima tahun. Buah durian dapat menggantung dari cabang mana saja, dan matang kira-kira tiga bulan setelah penyerbukan. Buahnya dapat tumbuh hingga sepanjang 30 cm (12 inci) dan berdiameter 15 cm (6 inci), serta biasanya beratnya 1 hingga 3 kilogram (2–7 pon).

Bentuknya berkisar dari lonjong hingga bulat, warna kulitnya hijau hingga cokelat, dan dagingnya kuning pucat hingga merah, tergantung pada spesiesnya. Di antara tiga puluh spesies Durio yang diketahui, sembilan menghasilkan buah yang dapat dimakan yakni: D. zibethinus, D. dulcis, D. grandiflorus, D. graveolens, D. kutejensis, D. lowianus, D. macrantha, D. oxleyanus, dan D. testudinarius.

Durio zibethinus adalah satu-satunya spesies yang dibudidayakan secara komersial dalam skala besar dan tersedia di luar wilayah asalnya. Karena spesies ini diserbuki secara terbuka, ia menunjukkan keragaman yang cukup besar dalam warna dan bau buah, ukuran daging dan biji, dan fenologi pohon.

Bunga durian besar dan berbulu, dengan nektar yang melimpah; mereka mengeluarkan bau yang berat, asam, dan seperti mentega. Ciri-ciri ini merupakan ciri khas bunga yang diserbuki oleh spesies kelelawar tertentu yang memakan nektar dan serbuk sari. Durian dapat diserbuki oleh beberapa jenis kelelawar. Spesies D. grandiflorus dan D. oblongus diserbuki oleh burung pijantung (famili Nectariniidae), sementara D. kutejensis diserbuki oleh lebah madu raksasa, burung, dan kelelawar.

Selama berabad-abad, berbagai kultivar durian yang diperbanyak dengan kloning vegetatif telah muncul di Asia Tenggara. Dulu, kultivar ini ditanam dari biji pohon yang menghasilkan buah berkualitas unggul, dengan hasil yang beragam. Kini, kultivar ini diperbanyak dengan cara cangkok atau (lebih umum) okulasi, termasuk okulasi kuncup, veneer, wedge, whip, dan U-grafting, pada bibit batang bawah yang dipilih secara acak. Kultivar yang berbeda dapat dibedakan sampai batas tertentu berdasarkan variasi bentuk buah, seperti bentuk duri.
Indonesia memiliki lebih dari 100 varietas durian. Spesies yang paling banyak dibudidayakan adalah D. zibethinus. Di Indonesia terdapat lebih dari 55 varietas/jenis durian budi daya. Hingga 2005 terdapat 38 kultivar unggul yang telah diseleksi dan diperbanyak secara vegetatif. Beberapa di antaranya adalah :

Gapu, dari Puncu, Kediri, Jawa Timur; Hepe, bijinya kempis dengan daging tebal; Kelud, dari Puncu, Kediri, Jawa Timur; Ligit, dari Kutai; Mawar, dari Long Kutai; Ripto, dari Trenggalek; Salisun, dari Nunukan; Sememang, dari Banjarnegara; Tong Medaye, dari Lombok, NTB; Bentara, dari Kerkap, Bengkulu Utara; Bido Wonosalam, dari Jombang, Jawa Timur; Perwira, dari Simapeul, Majalengka; Petruk, dari Dukuh Randusari, Desa Tahunan, Jepara, Jawa Tengah; Bawor, dari Banyumas, Jawa Tengah; Bagong, dari Klaten, Jawa Tengah; Semar, dari Semarang, Jawa Tengah; Arjuna, dari Ngawi, Jawa Timur; Soya, dari Ambon, Maluku; Sukun, bijinya kempis dengan daging tebal; Sunan, dari Boyolali; Kani (“chanee”, durian bangkok); Otong, (alihnama dari durian “monthong”).

Beberapa ras lokal belum diseleksi, sehingga masih bervariasi dan keunggulannya belum terjamin. Biasanya dinamakan sesuai lokasi geografi. Beberapa di antaranya adalah: Durian parung; Durian lampung; Durian jepara; Durian palembang; Durian padang; dan Durian merah banyuwangi.

Durian

Budidaya

Durian merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh hingga ketinggian 40 meter dengan umur produktif mencapai 80-100 tahun. Secara alami, tanaman ini mulai berbuah pada usia 4-5 tahun dengan masa panen utama antara November hingga Februari. Durian membutuhkan iklim tropis dengan curah hujan 1.500-3.000 mm/tahun, suhu ideal 22-30°C, dan kelembapan relatif 75-85%. Tanaman ini sensitif terhadap kekeringan dan genangan air yang berkepanjangan.

Bibit
Terdapat tiga jenis bibit durian yang umum digunakan petani: bibit generatif (dari biji), bibit vegetatif (okulasi, sambung pucuk, dan cangkok), serta bibit hasil Kultur Jaringan.
  • Generatif (biji), Perakaran kuat, umur panjang, Sifat tidak sama dengan induk, lama berbuah 8-10 tahun.
  • Okulasi, Sifat sama dengan induk, perakaran baik, Teknik sulit, risiko gagal tinggi, berbuah 4-5 tahun.
  • Sambung Pucuk, Sifat sama dengan induk, cepat berbuah, Perlu keahlian khusus, berbuah 3-4 tahun.
  • Kultur Jaringan, Seragam, bebas penyakit, produksi massal, Harga mahal, perlu adaptasi lapangan, berbuah 3-4 tahun.
Bibit sambung pucuk menunjukkan performa terbaik dengan tingkat keberhasilan tanam 92% dan pertumbuhan vegetatif yang lebih cepat dibandingkan jenis bibit lainnya.

Ciri bibit durian yang bagus, adalah sebagai berikut : Umur bibit 6-12 bulan dengan tinggi 50-80 cm.; Daun hijau sehat, tidak ada bercak atau gejala penyakit; Pertumbuhan seragam dan segar; Batang kokoh dengan diameter minimal 1 cm.; Perakaran banyak dan sehat, tidak terlihat bintil atau pembengkakan abnormal; dan bebas dari hama dan penyakit

Persiapan Lahan
Lakukan analisis tanah terlebih dahulu untuk mengetahui pH, kandungan unsur hara, dan tekstur tanah. Durian tumbuh optimal pada tanah dengan pH 6-7, struktur gembur, dan drainase baik.

Buat lubang tanam dengan ukuran 60x60x60 cm minimal 2 minggu sebelum penanaman. Berikan pupuk dasar berupa campuran 20 kg pupuk kandang matang, 500 gram dolomit, dan 100 gram NPK per lubang tanam. Biarkan lubang terbuka untuk mengurangi keasaman tanah dan mematikan patogen tanah.

Jarak Tanam
Jarak tanam ideal untuk durian adalah 10×10 m atau 12×12 m tergantung varietas dan kesuburan tanah. Untuk efisiensi lahan, dapat diterapkan sistem tumpang sari dengan tanaman semusim seperti cabai, kacang-kacangan, atau jahe pada tahun-tahun awal.

Teknik Penanaman
Waktu terbaik untuk menanam adalah awal musim hujan. Lepaskan polybag dengan hati-hati tanpa merusak perakaran. Letakkan bibit tepat di tengah lubang, timbun dengan campuran tanah dan kompos, lalu padatkan secara perlahan. Pasang ajir untuk menopang tanaman dari terpaan angin. Siram segera setelah tanam dan beri naungan sementara selama 2-3 minggu untuk mengurangi stres transplantasi. Naungan dapat menggunakan pelepah kelapa atau paranet 50%.

Pemupukan Berimbang
Kebutuhan nutrisi durian bervariasi sesuai fase pertumbuhan. Durian membutuhkan nitrogen tinggi pada fase vegetatif, fosfor untuk perakaran dan pembungaan, serta kalium untuk pembuahan dan kualitas buah. Berikut adalah; Umur Tanaman, Jenis Pupuk, Dosis per Pohon, dan Frekuensi : 0-1 tahun, Urea, SP-36, KCl 50-100 gram, 3 bulan sekali ; 1-3 tahun, Urea, SP-36, KCl 200-500 gram, 3 bulan sekali; 3-5 tahun, Urea, SP-36, KCl, Pupuk Kandang, 1-2 kg + 20 kg kandang, 3 bulan sekali (NPK), setahun sekali (kandang); >5 tahun, NPK Majemuk, Pupuk Kandang, Dolomit, 3-5 kg + 30-50 kg kandang + 2 kg dolomit, 3 bulan sekali (NPK), setahun sekali (kandang & dolomit).

Pengairan dan Drainase
Durian membutuhkan pengairan yang cukup terutama pada fase pembungaan dan pembuahan. Sistem irigasi tetap direkomendasikan untuk efisiensi air dan tenaga. Hindari genangan air yang dapat memicu busuk akar. Selama musim kemarau, lakukan penyiraman 2-3 kali seminggu dengan volume 20-40 liter per pohon tergantung umur tanaman. Kurangi frekuensi penyiraman saat mendekati masa pembungaan untuk merangsang munculnya bunga.

Pemangkasan Formatif dan Produktif Pemangkasan bertujuan membentuk kerangka tanaman yang kuat dan meningkatkan produksi buah. Lakukan pemangkasan formatif pada tahun pertama hingga ketiga untuk menentukan bentuk tajuk.

Pemangkasan produktif dilakukan pada tanaman dewasa untuk membuang tunas air, ranting sakit, dan ranting tidak produktif. Berdasarkan pengalaman Tim Riset Agronomi RajaTani, pemangkasan yang tepat dapat meningkatkan produksi buah hingga 25% dan mengurangi serangan hama penyakit.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Durian rentan terhadap serangan berbagai hama dan penyakit yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi. Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan strategi terbaik untuk mengatasi masalah ini.

Jenis Hama, Gejala Serangan, dan Pengendalian :
  • Penggerek batang (Zeuzera sp.), Lubang gerekan pada batang, serbuk gergaji di sekitar pangkal batang, Sanitasi kebun, injeksi insektisida sistemik ke lubang gerekan, lepaskan telur secara manual;
  • Ulat jengkal (Ophiusa sp.), Daun berlubang, tanaman gundul, produksi menurun Pemasangan lampu perangkap, penyemprotan insektisida nabati (nimba, tembakau);
  • Tungau (Eriophyes sp.) Daun mengeriting, pertumbuhan terhambat Pemangkasan bagian terserang, penyemprotan akarisida selektif; Lalat buah (Bactrocera sp.) Buah busuk dan jatuh prematur, terdapat lubang kecil pada buah, Pemasangan perangkap metil eugenol, pembungkusan buah, sanitasi kebun.

Penyakit Utama Durian adalah :
  • Penyakit busuk akar; merupakan ancaman serius bagi pertanaman durian. Gejalanya meliputi daun menguning, gugur, dan kematian tanaman. Pencegahan melalui drainase baik dan penggunaan batang bawah tahan penyakit lebih efektif daripada pengobatan; Aplikasi Trichoderma spp. sebagai biofungisida dapat menekan perkembangan penyakit busuk akar hingga 70%.
  • Penyakit kanker batang; ditandai dengan keluarnya lendir coklat pada batang. Pengendaliannya dengan mengerok bagian sakit dan mengolesi dengan fungisida sistemik.

Panen dan Pascapanen

Panen pada waktu yang tepat dan penanganan pascapanen yang baik menentukan kualitas dan harga jual durian. Durian termasuk buah klimakterik yang terus matang setelah dipetik.

Indikator Panen Optimal
Beberapa tanda durian siap panen, diantaranya sebagai berikut : Urat pada duri telah jelas terlihat dan berwarna coklat; Jarak antara duri melebar; Warna kulit hijau kekuningan (tergantung varietas); Bunyi bergema ketika buah dipukul; Tangkai buah membengkak dan muncul garis pecah; Bau harum khas durian mulai tercium

Panen sebaiknya dilakukan pagi hari dengan memotong tangkai buah sekitar 2-3 cm dari pangkal buah. Hindari menjatuhkan buah karena dapat menyebabkan memar dan penurunan kualitas.

Penanganan Pascapanen
Setelah panen, lakukan sortasi berdasarkan ukuran, bentuk, dan kualitas. Buah cacat atau terserang hama dipisahkan. Simpan durian di tempat teduh dengan sirkulasi udara baik. Untuk memperpanjang masa simpan, durian dapat disimpan pada suhu 15-18°C dengan kelembapan 85-90%. Pada kondisi ini, durian dapat bertahan 2-3 minggu.